BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR AL-MARAGHI
A. Tafsir
QS. Ar-Rahman [55]: ayat 1-4
ٱلرَّحۡمَٰنُ
١ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣ عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤
[سورة
الـرحـمـن,١-٤]
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman [55]: 1-4).
ٱلرَّحۡمَٰنُ : salah satu di
antara nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna).
ٱلۡإِنسَٰنُ : umat manusia.
Allah SWT.
menerangkan nikmat-nikmat yang dibuat oleh Raja Yang Maha Kuasa itu untuk
hamba-hamba-Nya, sebagai rahmat bagi mereka. Yaitu di antaranya:
1.
Bahwa Dia mengajarkan Al-Qur’an dan
hukum-hukum syari’at untuk menunjuki makhluk-Nya dan menyempurnakan kebahagiaan
mereka dalam penghidupan di dunia maupun di akhirat.
2.
Bahwa dia telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang terbaik dan menyempurnakannya dengan akal dan pengetahuan.
3.
Bahwa Dia telah mengajari manusia kemampuan
berbicara dan memahamkan kepada orang lain, hal mana tidak bisa terlaksanakan
kecuali dengan adanya jiwa dan akal.
ٱلرَّحۡمَٰنُ
١ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢ [سورة
الـرحـمـن,١-٢]
Allah telah
mengajari Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an dan Nabi Muhammad mengajarkannya kepada
umatnya.
Ayat ini turun
sebagai jawaban kepada penduduk Mekah ketika mereka mengatakan:
إِنَّمَا
يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٞۗ ١٠٣ [سورة النحل,١٠٣]
“Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh
seorang manusia kepadanya (Muhammad).” (An-Nahl [16]: 103).
Dan oleh karena surat ini menyebut-nyebut
tentang nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, maka
terlebih dahulu Allah menyebutkan nikmat yang merupakan nikmat terbesar
kedudukannya dan terbanyak manfaatnya, bahkan paling sempurna faidahnya, yaitu
nikmat diajarkannya Al-Qur’anul Karim. Karena dengan mengikuti Al-Qur’anul
Karim, maka diperolehlah kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan dengan
menempuh jalannya. Lalu diperolehlah segala keinginan di dunia dan di akhirat,
karena Al-Qur’anlah puncak dari segala kitab Samawi, yang telah
diturunkan pada makhluk Allah yang terbaik.
Setelah
menyebutkan nikmat tersebut, maka Allah SWT. menyebutkan pula nikmat yang
merupakan pangkal segala urusan dan segala sesuatu. Firman-Nya:
خَلَقَ
ٱلۡإِنسَٰنَ ٣ عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤
[سورة الـرحـمـن,٣-٤]
Dia telah
menciptakan umat manusia ini dan mengajarinya mengungkapkan apa yang terlintas
dalam hatinya dan terbetik dalam sanubarinya. Sekiranya tidak demikian, maka
Nabi Muhammad saw. takkan dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya.
Oleh karena
manusia itu makhluk sosial menurut tabiatnya, yang tak bisa hidup kecuali
bermasyarakat dengan sesamanya, maka haruslah ada bahasa yang digunakan untuk
saling memahamkan sesamanya, dan untuk menulis kepada sesamanya yang berada di
tempat-tempat jauh dan negeri-negeri seberang, di samping untuk memelihara
ilmu-ilmu orang terdahulu, supaya dapat diambil manfaatnya oleh generasi
berikut, dan supaya ilmu-ilmu itu dapat ditambah oleh generasi mendatang atas
hasil usaha yang diperoleh oleh generasi yang lalu.
Ini adalah
nikmat ruhani terbesar yang tak bisa ditandingi dengan nikmat lainnya dalam
kehidupan ini. Oleh karena itu, Allah SWT. mendahulukan penyebutannya atas
nikmat-nikmat lain yang akan disebutkan nanti.
Pertama-tama,
Allah menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu Al-Qur’an, yang dengan
itulah diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar,
dilanjutkan dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan
benda-benda langit yang dimanfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[2]
B. Tafsir QS. An-Najm [53]: ayat 5-6
عَلَّمَهُۥ
شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ٥ ذُو مِرَّةٖ فَٱسۡتَوَىٰ ٦ [سورة الـنجـم,٥-٦]
“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri
dengan rupa yang asli.” (QS. An-Najm [53]: 5-6).
شَدِيدُ
ٱلۡقُوَىٰ : yang amat kuat. Maksudnya ialah Jibril as.
ذُو
مِرَّةٍ : yang mempunyai akal cerdas dan kekuatan yang hebat. Qutrub
berkata, orang Arab berkata tentang setiap orang yang berpikiran cerdas dan
berakal cemerlang. Huwa Zumirrah, yakni dari kata-kata Amrartal
Habla, yang artinya kamu telah memintal benang dengan baik.
ٱسۡتَوَىٰ :
ia menampakkan diri dalam rupa yang asli,
sebagaimana Allah menciptakan dia dengan rupa tersebut, yaitu ketika nabi
berada di gua Hira pada permulaan kenabiannya.[1]
Nabi Muhammad tidak sesat dari jalan yang
lurus, dan juga tidak mengikuti kebatilan, tidak berkata-kata kecuali
berdasarkan wahyu yang Allah sampaikan dan diajarkan kepadanya oleh Jibril yang
mempunyai kekuatan hebat. Dia telah melihat Jibril itu dua kali pada rupanya
yang asli, sebagaimana Allah menciptakan dia pada rupa tersebut dengan sayap-sayap
dan sifat-sifatnya sebagai seorang malaikat. Yang pertama di gua Hira’ ketika
kenabian dimulai, dan kedua kali pada malam mi’raj ketika nabi saw. dinaikkan
ke langit.[2]
عَلَّمَهُۥ
شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ٥ [سورة الـنجم,٥]
Kawanmu itu diajari oleh Jibril as. sedang ia
adalah seorang makhluk yang berkekuatan hebat, baik ilmu maupun perbuatannya.
Dia mengetahui dan juga beramal. Dan tidak diragukan, bahwa pujian kepada guru
merupakan pujian pula bagi murid.
Hal ini juga merupakan bantahan terhadap
orang-orang musyrik mengenai perkataan mereka. Bahkan apa yang dikatakan oleh
Muhammad, tak lain adalah dongeng-dongeng orang dahulu yang dia dengar ketika
melakukan perjalanan ke Syam.
Kesimpulannya bahwa Nabi saw. tak pernah
diajari oleh seorang manusia pun. Akan tetapi ia diajari oleh Jibril yang
berkekuatan hebat. Sedang manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang daif. Ia
tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit saja. Di samping itu, Jibril adalah
terpercaya perkataannya. Sebab, kecerdasan yang kuat merupakan syarat
kepercayaan orang terhadap perkataan orang lain. Begitu pula ia terpercaya
hafalan maupun amanatnya. Artinya dia tidak lupa dan tak mungkin merubah.
ذُو
مِرَّةٖ ٦ [سورة الـنجـم,٦]
Yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril
yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pekerjaannya. Sedang kali ini
menggambarkan tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya
yang mengagumkan.
Kesimpulannya bahwa Jibril memiliki
kekuatan-kekuatan pikiran dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana diriwayatkan
bahwa ia pernah mencukil negeri kaum Lut dari laut Hitam yang waktu itu berada
di bawah tanah. Lalu memanggulnya pada kedua sayapnya dan diangkatnya negeri
itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak terhadap kaum
Samud, sehingga mereka mati semua.
Kalau kita percaya akan hal ini, maka tak lain
karena ia termasuk alam gaib. Dalam hal ini kita cukup percaya dengan
keterangan yang terdapat dalam kitab Allah Ta’ala tanpa menambah-nambahi.
Dalam pada itu, para ahli ilmu jiwa di Eropa
saat ini percaya tentang adanya kekuatan-kekuatan alam ruh dengan segala hal
yang luar biasa ditinjau dari alam kita ini. Oliver Lodewige berkata, “Sekarang
saya benar-benar yakin bahwa kita diliputi oleh alam yang jika kita bandingkan
dengan alam tersebut, maka seperti semut dibanding dengan kita. Mereka membantu
kita dan menjaga kita.” Kemudian katanya pula, “Hal ini saya ketahui secara
ilmiah.” (Maksudnya dengan menghadirkan ruh-ruh), kemudian ia mengatakan pula,
“Maka apabila orang-orang suci berkata bahwa mereka melihat malaikat, atau
bahwa mereka melihat Allah maka itu semua adalah benar tanpa diragukan lagi.”
Demikianlah, dan tentu saja tidak ada keraguan
mengenai keajaiban-keajaiban yang diceritakan oleh Al-Qur’an. Karena apa saja
yang tercantum di sana, yang berkaitan dengan alam ruh, kini telah menjadi ilmu
ruh dan penemuan baru. Maha benar Tuhan kita dengan firman-Nya:
سَنُرِيهِمۡ
ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ
أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ٥٣
[سورة
فصّلت,٥٣]
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.” (Fussilat [41]: 53).
Kekuatan-kekuatan jasmani maupun
kekuatan-kekuatan akal dari alam ruh menjadi magnetis, karena dengan cara
demikian, maka jiwa bisa terlepas dari tubuh secara keseluruhan, atau sebagian
saja, sedang jiwa itu masih terikat dengan tubuhnya, namun mempunyai hubungan
dengan alam-alam ruh.
فَٱسۡتَوَىٰ
٦ [سورة الـنجـم,٦]
Lalu
Jibril menampakkan diri dalam rupa yang asli, sebagaimana Allah
menciptakan dia dalam rupa tersebut, yaitu ketika Rasulullah saw. ingin
melihatnya sedemikian rupa. Yakni bahwa Jibril itu menampakkan diri kepada
Rasulullah saw. pada ufuk yang tertinggi, yaitu ufuk matahari.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar