Kamis, 15 Januari 2015

Tafsir tentang Subyek Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR AL-MARAGHI
A.    Tafsir QS. Ar-Rahman [55]: ayat 1-4
ٱلرَّحۡمَٰنُ ١  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣  عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤
[سورة الـرحـمـن,١-٤]

(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara.(QS. Ar-Rahman [55]: 1-4).

ٱلرَّحۡمَٰنُ     : salah satu di antara nama-nama Allah yang indah (Asma’ul Husna).
ٱلۡإِنسَٰنُ      : umat manusia.
ٱلۡبَيَانُ       : kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang lain.[1]

Allah SWT. menerangkan nikmat-nikmat yang dibuat oleh Raja Yang Maha Kuasa itu untuk hamba-hamba-Nya, sebagai rahmat bagi mereka. Yaitu di antaranya:
1.      Bahwa Dia mengajarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum syari’at untuk menunjuki makhluk-Nya dan menyempurnakan kebahagiaan mereka dalam penghidupan di dunia maupun di akhirat.
2.      Bahwa dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dan menyempurnakannya dengan akal dan pengetahuan.
3.      Bahwa Dia telah mengajari manusia kemampuan berbicara dan memahamkan kepada orang lain, hal mana tidak bisa terlaksanakan kecuali dengan adanya jiwa dan akal.

ٱلرَّحۡمَٰنُ ١  عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ٢ [سورة الـرحـمـن,١-٢]

Allah telah mengajari Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an dan Nabi Muhammad mengajarkannya kepada umatnya.
Ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk Mekah ketika mereka mengatakan:

إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٞۗ ١٠٣ [سورة النحل,١٠٣]

“Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” (An-Nahl [16]: 103).

Dan oleh karena surat ini menyebut-nyebut tentang nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, maka terlebih dahulu Allah menyebutkan nikmat yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan terbanyak manfaatnya, bahkan paling sempurna faidahnya, yaitu nikmat diajarkannya Al-Qur’anul Karim. Karena dengan mengikuti Al-Qur’anul Karim, maka diperolehlah kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan dengan menempuh jalannya. Lalu diperolehlah segala keinginan di dunia dan di akhirat, karena Al-Qur’anlah puncak dari segala kitab Samawi, yang telah diturunkan pada makhluk Allah yang terbaik.
Setelah menyebutkan nikmat tersebut, maka Allah SWT. menyebutkan pula nikmat yang merupakan pangkal segala urusan dan segala sesuatu. Firman-Nya:

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ٣  عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ٤ [سورة الـرحـمـن,٣-٤]

Dia telah menciptakan umat manusia ini dan mengajarinya mengungkapkan apa yang terlintas dalam hatinya dan terbetik dalam sanubarinya. Sekiranya tidak demikian, maka Nabi Muhammad saw. takkan dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya.
Oleh karena manusia itu makhluk sosial menurut tabiatnya, yang tak bisa hidup kecuali bermasyarakat dengan sesamanya, maka haruslah ada bahasa yang digunakan untuk saling memahamkan sesamanya, dan untuk menulis kepada sesamanya yang berada di tempat-tempat jauh dan negeri-negeri seberang, di samping untuk memelihara ilmu-ilmu orang terdahulu, supaya dapat diambil manfaatnya oleh generasi berikut, dan supaya ilmu-ilmu itu dapat ditambah oleh generasi mendatang atas hasil usaha yang diperoleh oleh generasi yang lalu.
Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tak bisa ditandingi dengan nikmat lainnya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, Allah SWT. mendahulukan penyebutannya atas nikmat-nikmat lain yang akan disebutkan nanti.
Pertama-tama, Allah menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu Al-Qur’an, yang dengan itulah diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dilanjutkan dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda-benda langit yang dimanfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[2]

B. Tafsir QS. An-Najm [53]: ayat 5-6
عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ٥ ذُو مِرَّةٖ فَٱسۡتَوَىٰ ٦ [سورة الـنجـم,٥-٦]


“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.(QS. An-Najm [53]: 5-6).

شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ     : yang amat kuat. Maksudnya ialah Jibril as.
ذُو مِرَّةٍ            : yang mempunyai akal cerdas dan kekuatan yang hebat. Qutrub berkata, orang Arab berkata tentang setiap orang yang berpikiran cerdas dan berakal cemerlang. Huwa Zumirrah, yakni dari kata-kata Amrartal Habla, yang artinya kamu telah memintal benang dengan baik.
ٱسۡتَوَىٰ            : ia menampakkan diri dalam rupa yang asli, sebagaimana Allah menciptakan dia dengan rupa tersebut, yaitu ketika nabi berada di gua Hira pada permulaan kenabiannya.[1]

Nabi Muhammad tidak sesat dari jalan yang lurus, dan juga tidak mengikuti kebatilan, tidak berkata-kata kecuali berdasarkan wahyu yang Allah sampaikan dan diajarkan kepadanya oleh Jibril yang mempunyai kekuatan hebat. Dia telah melihat Jibril itu dua kali pada rupanya yang asli, sebagaimana Allah menciptakan dia pada rupa tersebut dengan sayap-sayap dan sifat-sifatnya sebagai seorang malaikat. Yang pertama di gua Hira’ ketika kenabian dimulai, dan kedua kali pada malam mi’raj ketika nabi saw. dinaikkan ke langit.[2]

عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلۡقُوَىٰ ٥ [سورة الـنجم,٥]

Kawanmu itu diajari oleh Jibril as. sedang ia adalah seorang makhluk yang berkekuatan hebat, baik ilmu maupun perbuatannya. Dia mengetahui dan juga beramal. Dan tidak diragukan, bahwa pujian kepada guru merupakan pujian pula bagi murid.
Hal ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik mengenai perkataan mereka. Bahkan apa yang dikatakan oleh Muhammad, tak lain adalah dongeng-dongeng orang dahulu yang dia dengar ketika melakukan perjalanan ke Syam.
Kesimpulannya bahwa Nabi saw. tak pernah diajari oleh seorang manusia pun. Akan tetapi ia diajari oleh Jibril yang berkekuatan hebat. Sedang manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang daif. Ia tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit saja. Di samping itu, Jibril adalah terpercaya perkataannya. Sebab, kecerdasan yang kuat merupakan syarat kepercayaan orang terhadap perkataan orang lain. Begitu pula ia terpercaya hafalan maupun amanatnya. Artinya dia tidak lupa dan tak mungkin merubah.

ذُو مِرَّةٖ ٦ [سورة الـنجـم,٦]

Yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pekerjaannya. Sedang kali ini menggambarkan tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang mengagumkan.
Kesimpulannya bahwa Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil negeri kaum Lut dari laut Hitam yang waktu itu berada di bawah tanah. Lalu memanggulnya pada kedua sayapnya dan diangkatnya negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak terhadap kaum Samud, sehingga mereka mati semua.
Kalau kita percaya akan hal ini, maka tak lain karena ia termasuk alam gaib. Dalam hal ini kita cukup percaya dengan keterangan yang terdapat dalam kitab Allah Ta’ala tanpa menambah-nambahi.
Dalam pada itu, para ahli ilmu jiwa di Eropa saat ini percaya tentang adanya kekuatan-kekuatan alam ruh dengan segala hal yang luar biasa ditinjau dari alam kita ini. Oliver Lodewige berkata, “Sekarang saya benar-benar yakin bahwa kita diliputi oleh alam yang jika kita bandingkan dengan alam tersebut, maka seperti semut dibanding dengan kita. Mereka membantu kita dan menjaga kita.” Kemudian katanya pula, “Hal ini saya ketahui secara ilmiah.” (Maksudnya dengan menghadirkan ruh-ruh), kemudian ia mengatakan pula, “Maka apabila orang-orang suci berkata bahwa mereka melihat malaikat, atau bahwa mereka melihat Allah maka itu semua adalah benar tanpa diragukan lagi.”
Demikianlah, dan tentu saja tidak ada keraguan mengenai keajaiban-keajaiban yang diceritakan oleh Al-Qur’an. Karena apa saja yang tercantum di sana, yang berkaitan dengan alam ruh, kini telah menjadi ilmu ruh dan penemuan baru. Maha benar Tuhan kita dengan firman-Nya:
سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ٥٣
[سورة فصّلت,٥٣]

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.(Fussilat [41]: 53).

Kekuatan-kekuatan jasmani maupun kekuatan-kekuatan akal dari alam ruh menjadi magnetis, karena dengan cara demikian, maka jiwa bisa terlepas dari tubuh secara keseluruhan, atau sebagian saja, sedang jiwa itu masih terikat dengan tubuhnya, namun mempunyai hubungan dengan alam-alam ruh.

فَٱسۡتَوَىٰ ٦ [سورة الـنجـم,٦]
Lalu Jibril menampakkan diri dalam rupa yang asli, sebagaimana Allah menciptakan dia dalam rupa tersebut, yaitu ketika Rasulullah saw. ingin melihatnya sedemikian rupa. Yakni bahwa Jibril itu menampakkan diri kepada Rasulullah saw. pada ufuk yang tertinggi, yaitu ufuk matahari.[3]


[1] A. Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi 27, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989), hal. 74.
[2] A. Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi 27, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989), hal. 76.
`               [3] A. Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi 27, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989), hal. 79-81

Tidak ada komentar:

Posting Komentar