Jumat, 21 Oktober 2016

INDONESIA BERSATU



INDONESIA BERSATU
Oleh Marasudin Siregar
Negara Indonesia adalah negara yang kaya. Apa buktinya? Indonesia kaya akan rempah-rempah. Banyak negara Eropa dulu datang ke Indonesia untuk mencarinya dengan cara menjajah. Bangsa Indonesia kaya akan sumber daya tambang. Belanda dulu tetap bersikukuh untuk memiliki Irian Barat dan Portugis ingin menguasai Timor Timur. Indonesia kaya akan budaya. Banyak negara asing seperti Malaysia, Belanda, Perancis, dan Jepang mengklaim kebudayaan kita.[1] Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau.[2] Sampai-sampai Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan diklaim oleh Malaysia.[3] Itulah NKRI yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Gambaran inilah yang terkandung pada semboyan bangsa kita “Bhinneka Tunggal Eka”-Berbeda-beda tetapi tetap satu.   
Ini semua milik Indonesia, milik kita harus kita jaga. Jangan terlambat menyadarinya setelah wilayah kita diambil negara lain, setelah budaya kita diaku budaya mereka.
Kita memang harus mencintai Indonesia karena kita Bangsa Indonesia. Kita wajib memakmurkan, mensejahterahan, memajukan dan megharumkan bumi pertiwi. Menjaga dan mempertahankan tanah air ini dari setiap ancaman yang menyerang kedaulatan bangsa. Sebagaimana para pahlawan bangsa yang mengorbankan jiwa, raga, harta, dan nyawanya demi Indonesia. Kita semua bisa berjuang untuk Indonesia sesuai profesi masing-masing.
Nabi bersabda: “Aku mencintai Arab karena aku bangsa Arab”.[4] Kalau Nabi mencontohkan mencintai negara Nabi, kita juga wajib mencintai negara kita.
Pada era reformasi, beberapa wilayah di Indonesia ingin memisahkan diri dari negeri ini. Misalnya di Aceh dengan sebutan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), di Maluku yang memberontak kepada negara dengan sebutan RMS (Republik Maluku Sarani), di Irian Barat yang masih digondeli oleh Belanda, di Timor Timur yang ingin dikuasai Portugis. Bangsa ini tidak tinggal diam melihat ini semua.[5] Perlawanan kita lakukan, perundingan dengan negara terkait demi mempertahankan NKRI kita lakukan. Meskipun akhirnya kita harus bersedih berpisah dengan Timor Timur.
Dan sekarang ini, kita mengetahui banyak budaya kita diklaim oleh negara asing, baik itu lagu, tarian, batik, bahkan makanan khas daerah. Mungkin sebelumnya kita belum merasa memiliki itu semua, namun setelah kebudayaan tersebut diaku milik mereka, baru sadar kita belum benar-benar menjaga anugrah yang Allah berikan untuk bangsa ini.  
Negara Indonesia adalah negara yang kuat. Sehingga negara-negara asing takut dan ingin menghancurkan kita. Misalnya melalui narkotika. Mereka menghancurkan bangsa ini dengan merusak generasi muda kita, merusak moral, merusak mental anak bangsa.[6] Banyak pelajar yang sudah menjadi korban barang haram ini.
Banyak kejadian di negeri ini yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Seperti penyerangan antar suku di Papua dan tawuran antar warga. Tidak hanya mengancam fisik dari bangsa ini, tetapi juga menyerang ideologi bangsa. Munculnya paham-paham radikal yang menolak kearifan lokal dan kebudayaan yang tidak sesuai dengannya, adanya aliran sesat, kurangnya kecintaan pada produk sendiri, maupun munculnya pemberontakan dan gerakan separatis karena mudahnya diadu domba oleh pihak musuh.[7]
Adanya ancaman yang merongrong keutuhan NKRI ini wajib ditumpas. Baik dari dalam maupun dari luar dan juga segala hal yang mengancam ideologi bangsa. Kita memiliki pancasila. Dengan cara mengamalkan nilai-nilai yang terkandung padanya, kita adalah bangsa yang kuat.
Sudah semestinya kita menjaga bangsa ini. Menjaga segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, menggunakannya secara bijak dan sebaik mungkin. Setiap warga negara berpartisipasi dalam menjaga keutuhan, kedaulatan, dan mempererat persatuan bangsa. Adapun perbedaan suku, budaya, agama, bahasa, dan warna kulit harus kita hormati, karena dalam perbedaan terkandung keindahan jika terjalin kerukunan.[8]
Begitu besar karunia Allah kepada bangsa ini. Sebagai bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita menjaga tanah air ini dari segala macam ancaman yang datang.


[1] Roby Darisandi, 33 Kebudayaan diklaim Negara Asing ! Segera Patenkan Aneka Ragam Kebudayaan Indonesia, diakses dari https://www.change.org/p/presiden-republik-indonesia-33-kebudayaan-diklaim-negara-asing-segera-patenkan-aneka-ragam-kebudayaan-indonesia, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 8.55.
[2] Jumlah Pulau di Indonesia ‘Berkurang’ 4.042 Buah. Metrotvnews. Jum’at, 18 Oktober 2003. Diakses 20 Oktober 2016.
[3] Adi Nugroho, 5 Wilayah Indonesia yang Pernah Diklaim dan Menjadi Wilayah Negara Lain, diakses dari http://www.boombastis.com/wilayah-indonesia-diklaim/47520, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.00.
[4] Muhammad Arman, Hadis Hormati Bangsa Arab, diakses dari https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/935376989818443/, pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 9.10.
[5] Gus Dur dan Asal Muasal Semboyan ‘NKRI Harga Mati’, diakses dari http://www.islam-institute.com/gus-dur-dan-asal-muasal-semboyan-nkri-harga-mati/, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.20.
[6] Hasanudin Aco, Habib Luthfi: NKRI Harga Mati!, diakses dari http://m.tribunnews.com/regional/2016/07/10/habib-luthfi-nkri-harga-mati, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.26.
[7] Risa Aryanti, Contoh Kasus yang Mengancam Keutuhan NKRI, diakses dari  http://risaaryanti.blogspot.co.id/2014/06/contoh-kasusu-ylang-mengancam-keutuhan.html?m=1, pada tanggal  22 Oktober 2016 pukul 9.32.
[8] Risa Aryanti, Contoh Kasus yang Mengancam Keutuhan NKRI, diakses dari http://risaaryanti.blogspot.co.id/2014/06/contoh-kasusu-ylang-mengancam-keutuhan.html?m=1, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.34.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar