Kamis, 20 Oktober 2016

BIOGRAFI PROFESI THOLIBUL ILMI



BIOGRAFI 
PROFESI THOLIBUL ILMI


MARASUDIN SIREGAR lahir di Dukuh Ngrawing, RT 03/RW 03, Desa Ngambakrejo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Hari Senin Pahing, 17 Juli 1995. Saat ini ia berusia 21 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ibu Siti Maftukhah binti Tarmuji sebagai ibu rumah tangga dan Ayah Muhtarom bin Karso bekerja sebagai pedagang kayu, memiliki satu orang adik perempuan, Lia Murdaningsih, sekolah di MAN 1 Semarang kelas XI-IPA. Beragama Islam dan berjenis kelamin laki-laki. Nama Marasudin Siregar diberikan oleh sang ayah kepadanya karena nama ini adalah nama guru sang ayah sewaktu belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Wali Sembilan (Setia WS) Semarang dulu. Guru yang tegas, guru yang sangat dihormati dan disegani oleh sang ayah. Sehingga ketika sang anak lahir, ia diberi nama sama seperti nama sang guru, Marasudin Siregar, dengan harapan ia kelak menjadi seorang yang dapat menjadi panutan dan memberikan manfaat bagi sesamanya. 

Ia sering dipanggil Rega oleh teman-teman di kampungnya, biasa dipanggil Regar oleh teman-teman MTsnya, dipanggil Siregar oleh teman Aliyahnya, dan ada juga yang memanggilnya dengan Maras ataupun Din.

Ia masuk Taman Kanak-kanak (TK) di desanya tahun 2000, pada tahun 2001 masuk SD dan menamatkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Grobogan tahun 2007. Sewaktu SD, di pagi hari ia belajar di Sekolah Dasar, sore harinya belajar di Madrasah Diniyah Awaliyah selama enam tahun juga, dan di malam hari bersama kawan-kawannya belajar mengaji di musholla dekat rumah. Sewaktu kecil ini ia juga ikut angon wedus yang dimiliki orang tuanya. Setelah pulang sekolah ia nileki kambing-kambing yang dicancang di tanggul dekat sungai, dan setelah pulang dari MADIN ia menggiringnya untuk kembali ke kandang. Selama di SD ia pernah mengikuti beberapa lomba seperti: senam, lomba sepak takraw, lomba matematika, dan lomba khot yang diadakan pada tingkat kecamatan.
Ia memulai pendidikan menengahnya di MTs Negeri Jeketro Gubug Grobogan yang jaraknya kurang lebih 4 kilometer dari rumahnya yang harus ia tempuh dengan bersepeda bersama teman-temannya. MTs inilah yang ia pilih di antara sekolah-sekolah menengah pertama di Grobogan. Di sini ia berjumpa dengan teman-teman dari berbagai penjuru Kabupaten Grobogan. Ia berjumpa dengan orang-orang yang memiliki semangat belajar tinggi. Jika waktu istirahat datang, kalau tidak digunakan mengerjakan soal pelajaran di dalam kelas, mereka memilih mengunjungi perpustakaan dari pada ke kantin. Mulailah sejak saat itu semangat mencari ilmunya muncul dan berkobar-kobar. Khusus kelas A mendapat tambahan pelajaran setelah bel pulang selama 4 hari, dan ia dapat mempertahankan berada di kelas A dari kelas 7 sampai lulus. Di sekolah ini ia juga pernah mengikuti lomba mapel IPA tingkat karisidenan Purwodadi.
Pada tahun 2010 ia merantau ke Kota Lumpia Semarang untuk belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Semarang dengan mengambil jurusan Keagamaan, sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Pedurungan Lor, Semarang di bawah asuhan KH. Muhammad Qodirun Nur. Kegiatannya selama di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini adalah bersekolah dan mondok. Pagi hari sebelum berangkat sekolah sudah harus jama’ah shubuh bersama, dilanjutkan mengaji Al-Qur’an langsung kepada Kyai, dan melaksanakan piket rutin pondok, dan malam hari mengaji kepada Pak Kyai dan para ustadz-ustadzah yang mengajarkan ajaran Ilahi dalam kitab Al-Qur’an, tafsir jalalain, bulughul marom, ‘imriti, durrotun nasikhin, ihya’ ulumuddin, al-hikam, fathul qorib, ta’limul muta’allim, tuhfatul athfal, akhlak lil banin, serta masih banyak lagi yang lainnya, dan lulus MA pada tahun 2013. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hingga saat ini, dan sekarang sudah sampai semester VII untuk menyelesaikan sisa mata kuliah yang ada. Sejak kecil ia telah memilih pendidikan agama sebagai jalan yang ia tempuh dari MTs, MA, dan Universitas Islam. Itulah alasannya ia memilih jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) karena Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam ajaran Islam.
Ia adalah orang yang suka bermain sepak bola yang selalu dilakukannya setelah pulang dari Madrasah Diniyah Awaliyah dulu, meskipun ia jarang menonton pertandingan sepak bola di televisi. Setelah memasuki MTs, ia memilih menjadi salah satu dari anggota pengurus OSIS MTs. Adapun di MA, ia juga menjadi bagian dari anggota pengurus OSIS MA. Selain OSIS, ia juga mengikuti ekstrakurikuler pencak silat tapak suci Muhammadiyah. Di bangku kuliah, ia hanya mengikuti UKM Nafilah, UKM yang kegiatannya berdiskusi, mengkaji, dan belajar bersama dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Arab, karena ia masih berprofesi sebagai santri, maka setelah kegiatan perkuliahan selesai, ia pun harus segera kembali ke pesantren untuk menimba ilmu pada Sang Kyai.
Hobinya yang lain adalah membaca. Seperti membaca cerita novel karangan Habiburrahman El-Shirazy yaitu: Ayat-ayat Cinta I dan II, Ketika Cinta Bertasbih I dan II, Bumi Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Cita Suci Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, Api Tauhid. Novel lain yang telah ia baca adalah karangan Ahmad Fuadi yaitu Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna. Hobi lainnya adalah berenang, karena di samping rumahnya terdapat sungai, ia bisa mandi, bermain-main, dan kungkum berjam-jam yang tentunya gratis. Lalu bersepeda, tercatat di rumah, ia memiliki tiga buah sepeda. Pertama sepeda kecil yang ia gunakan untuk belajar bersepeda, yang kedua sepeda tiger yang selalu menemaninya berangkat ke MTs dulu, dan yang ketika sepeda mini yang dibelikan ayah sebagai hadiah karena mendapatkan peringkat pertama pada MID Semester kelas 2 MTs. Kemudian bermain tenis meja. Kesukaannya pada pingpong berawal saat tetangganya membeli meja pingpong. Setelah mengaji dari musholla ia mampir dulu bermain. Lalu volley ball, dan lari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar