Sabtu, 19 November 2016

Cara Kebenaran Membela Diri



CARA KEBENARAN MEMBELA DIRI
Oleh: Marasudin Siregar, Mahasiswa Semester 7, Prodi PBA, FITK, UIN Walisongo Semarang
Kunjungan dinas Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu (sebuah kepulauan di utara Kabupaten Tangerang, Banten), 30 September 2016 adalah untuk meninjau sektor perikanan dan penebaran benih dalam upaya kerja sama laut Pemprov DKI Jakarta dengan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta.[1]
Ahok sampaikan di sana kepada warga masyarakat Kepuauan Seribu tentang program kerjanya, budidaya ikan dan diajukannya pemilihan gubenur DKI Jakarta. Ahok menyampaikan bahwa: “Tidak masalah jika warga dibohongi pake surah Al Maidah: 51 dan macem-macem tidak memilihnya dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.”[2]
Pernyataan yang membuat umat muslim marah dengan memprotes Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama terjadi pada Jum’at, 4 November 2016, pukul 13.00 WIB. Bakda mendirikan shalat jum’at di Masjid Istiqlal ribuan orang yang dari sejumlah ormas Islam turun ke jalan dan melakukan long march ke istana negara menyuarakan keadilan kepada presiden agar mengusut tuntas masalah ini (menghina Al Qur’an).[3]
Takdir berkata lain, mereka tidak bisa bertemu dengan presiden. Sehingga perwakilan pendemo ditemui oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menkopulhukam Wiranto. Pemerintah menyampaikan akan memproses hukum masalah ini dengan cepat dan massa diharapkan bubar. Aksi yang awalnya tertib menjadi tidak terkendali ketika waktu isya’ datang. Ditengarai adanya pihak provokator, aksi dorong-mendorong terjadi untuk menjebol barikade 18.000 aparat tidak dapat terelakkan. Demonstran mulai melempari aparat dengan botol air mineral, kayu, dan memukul dengan bambu. Karena itu polisi harus melepaskan gas air mata. Akibatnya adalah satu orang korban tewas, ratusan lain kena dampak lontaran gas air mata, dan mobil polisi dibakar massa.[4] Ini ancaman fisik dari dalam bagi keutuhan NKRI kita. Mereka anarki, mereka terprovokasi. Tidak lain dan tidak bukan adanya penyusup-penyusup yang ingin meruntuhkan NKRI adalah dalangnya.
Datang berbagai pendapat, baik pro dan kontra terhadap pernyataan Ahok, yang mereka kaji baik dari segi bahasa, agama, serta hukum pidana.
Dalam kitab maulid ad-diba’i karya Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman Ad-Diba’iy disebutkan bahwa: “Nabi Muhammad selalu memaafkan kesalahan yang berhubungan dengan haknya sendiri. Namun jika hak Allah yang dilanggar, maka tak ada seorang pun yang berani berdiri karena marahnya.”[5]
Maka wajarlah bila umat Islam marah ketika hak Allah (Al-Qur’an) dihina.
Badiuzzaman Said Nursi juga saat dihadapkan ke Mahkamah militer untuk diadili terkait keterlibatannya dalam pemberontakan 31 Maret 1909 M mengatakan bahwa: “Melakukan kerusuhan dengan merusak harta orang lain, membuat keonaran yang mengganggu kepentingan umum, disiplin yang dilanggar, nasihat tidak didengar adalah bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Karenanya saya tidak mau terlibat dalam kerusuhan. Jika saya punya seribu nyawa, saya siap mengorbankan semuanya demi membela satu kebenaran syariat. Karena ia adalah sumber kesejahteraan dan kebahagiaan, keadilan sejati serta kebajikan. TETAPI, TIDAK DENGAN CARA YANG DILAKUKAN PARA PEMBERONTAK DAN PERUSUH ITU!”[6]
Salah satu hak warga negara adalah menyuarakan pendapat. Namun tatkala aturan sudah tidak dihiraukan dan menimbulkan kekacauan, hal tersebut sudah tidak bisa dibenarkan.
Hingga 19 November 2016 kasus ini masih dalam proses penanganan polisi, dan status Ahok adalah tersangka kasus penistaan agama. Adapun jika terbukti bersalah, konsekuensinya harus diadili sesuai hukum yang berlaku.


[5] Ali Mukhtar, Cakrawala 2000 Qosidah & Surat-surat Pilihan, Lamongan: Az-Zahida Group, 2011, hlm. 357.
[6] Habiburrahman El-Shirazy, Api Tauhid, Jakarta: Republika, 2015, hlm. 364.

Jumat, 21 Oktober 2016

INDONESIA BERSATU



INDONESIA BERSATU
Oleh Marasudin Siregar
Negara Indonesia adalah negara yang kaya. Apa buktinya? Indonesia kaya akan rempah-rempah. Banyak negara Eropa dulu datang ke Indonesia untuk mencarinya dengan cara menjajah. Bangsa Indonesia kaya akan sumber daya tambang. Belanda dulu tetap bersikukuh untuk memiliki Irian Barat dan Portugis ingin menguasai Timor Timur. Indonesia kaya akan budaya. Banyak negara asing seperti Malaysia, Belanda, Perancis, dan Jepang mengklaim kebudayaan kita.[1] Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau.[2] Sampai-sampai Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan diklaim oleh Malaysia.[3] Itulah NKRI yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Gambaran inilah yang terkandung pada semboyan bangsa kita “Bhinneka Tunggal Eka”-Berbeda-beda tetapi tetap satu.   
Ini semua milik Indonesia, milik kita harus kita jaga. Jangan terlambat menyadarinya setelah wilayah kita diambil negara lain, setelah budaya kita diaku budaya mereka.
Kita memang harus mencintai Indonesia karena kita Bangsa Indonesia. Kita wajib memakmurkan, mensejahterahan, memajukan dan megharumkan bumi pertiwi. Menjaga dan mempertahankan tanah air ini dari setiap ancaman yang menyerang kedaulatan bangsa. Sebagaimana para pahlawan bangsa yang mengorbankan jiwa, raga, harta, dan nyawanya demi Indonesia. Kita semua bisa berjuang untuk Indonesia sesuai profesi masing-masing.
Nabi bersabda: “Aku mencintai Arab karena aku bangsa Arab”.[4] Kalau Nabi mencontohkan mencintai negara Nabi, kita juga wajib mencintai negara kita.
Pada era reformasi, beberapa wilayah di Indonesia ingin memisahkan diri dari negeri ini. Misalnya di Aceh dengan sebutan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), di Maluku yang memberontak kepada negara dengan sebutan RMS (Republik Maluku Sarani), di Irian Barat yang masih digondeli oleh Belanda, di Timor Timur yang ingin dikuasai Portugis. Bangsa ini tidak tinggal diam melihat ini semua.[5] Perlawanan kita lakukan, perundingan dengan negara terkait demi mempertahankan NKRI kita lakukan. Meskipun akhirnya kita harus bersedih berpisah dengan Timor Timur.
Dan sekarang ini, kita mengetahui banyak budaya kita diklaim oleh negara asing, baik itu lagu, tarian, batik, bahkan makanan khas daerah. Mungkin sebelumnya kita belum merasa memiliki itu semua, namun setelah kebudayaan tersebut diaku milik mereka, baru sadar kita belum benar-benar menjaga anugrah yang Allah berikan untuk bangsa ini.  
Negara Indonesia adalah negara yang kuat. Sehingga negara-negara asing takut dan ingin menghancurkan kita. Misalnya melalui narkotika. Mereka menghancurkan bangsa ini dengan merusak generasi muda kita, merusak moral, merusak mental anak bangsa.[6] Banyak pelajar yang sudah menjadi korban barang haram ini.
Banyak kejadian di negeri ini yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Seperti penyerangan antar suku di Papua dan tawuran antar warga. Tidak hanya mengancam fisik dari bangsa ini, tetapi juga menyerang ideologi bangsa. Munculnya paham-paham radikal yang menolak kearifan lokal dan kebudayaan yang tidak sesuai dengannya, adanya aliran sesat, kurangnya kecintaan pada produk sendiri, maupun munculnya pemberontakan dan gerakan separatis karena mudahnya diadu domba oleh pihak musuh.[7]
Adanya ancaman yang merongrong keutuhan NKRI ini wajib ditumpas. Baik dari dalam maupun dari luar dan juga segala hal yang mengancam ideologi bangsa. Kita memiliki pancasila. Dengan cara mengamalkan nilai-nilai yang terkandung padanya, kita adalah bangsa yang kuat.
Sudah semestinya kita menjaga bangsa ini. Menjaga segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, menggunakannya secara bijak dan sebaik mungkin. Setiap warga negara berpartisipasi dalam menjaga keutuhan, kedaulatan, dan mempererat persatuan bangsa. Adapun perbedaan suku, budaya, agama, bahasa, dan warna kulit harus kita hormati, karena dalam perbedaan terkandung keindahan jika terjalin kerukunan.[8]
Begitu besar karunia Allah kepada bangsa ini. Sebagai bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita menjaga tanah air ini dari segala macam ancaman yang datang.


[1] Roby Darisandi, 33 Kebudayaan diklaim Negara Asing ! Segera Patenkan Aneka Ragam Kebudayaan Indonesia, diakses dari https://www.change.org/p/presiden-republik-indonesia-33-kebudayaan-diklaim-negara-asing-segera-patenkan-aneka-ragam-kebudayaan-indonesia, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 8.55.
[2] Jumlah Pulau di Indonesia ‘Berkurang’ 4.042 Buah. Metrotvnews. Jum’at, 18 Oktober 2003. Diakses 20 Oktober 2016.
[3] Adi Nugroho, 5 Wilayah Indonesia yang Pernah Diklaim dan Menjadi Wilayah Negara Lain, diakses dari http://www.boombastis.com/wilayah-indonesia-diklaim/47520, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.00.
[4] Muhammad Arman, Hadis Hormati Bangsa Arab, diakses dari https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/935376989818443/, pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 9.10.
[5] Gus Dur dan Asal Muasal Semboyan ‘NKRI Harga Mati’, diakses dari http://www.islam-institute.com/gus-dur-dan-asal-muasal-semboyan-nkri-harga-mati/, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.20.
[6] Hasanudin Aco, Habib Luthfi: NKRI Harga Mati!, diakses dari http://m.tribunnews.com/regional/2016/07/10/habib-luthfi-nkri-harga-mati, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.26.
[7] Risa Aryanti, Contoh Kasus yang Mengancam Keutuhan NKRI, diakses dari  http://risaaryanti.blogspot.co.id/2014/06/contoh-kasusu-ylang-mengancam-keutuhan.html?m=1, pada tanggal  22 Oktober 2016 pukul 9.32.
[8] Risa Aryanti, Contoh Kasus yang Mengancam Keutuhan NKRI, diakses dari http://risaaryanti.blogspot.co.id/2014/06/contoh-kasusu-ylang-mengancam-keutuhan.html?m=1, pada tanggal 22 Oktober 2016 pukul 9.34.

Kamis, 20 Oktober 2016

BIOGRAFI PROFESI THOLIBUL ILMI



BIOGRAFI 
PROFESI THOLIBUL ILMI


MARASUDIN SIREGAR lahir di Dukuh Ngrawing, RT 03/RW 03, Desa Ngambakrejo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Hari Senin Pahing, 17 Juli 1995. Saat ini ia berusia 21 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ibu Siti Maftukhah binti Tarmuji sebagai ibu rumah tangga dan Ayah Muhtarom bin Karso bekerja sebagai pedagang kayu, memiliki satu orang adik perempuan, Lia Murdaningsih, sekolah di MAN 1 Semarang kelas XI-IPA. Beragama Islam dan berjenis kelamin laki-laki. Nama Marasudin Siregar diberikan oleh sang ayah kepadanya karena nama ini adalah nama guru sang ayah sewaktu belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Wali Sembilan (Setia WS) Semarang dulu. Guru yang tegas, guru yang sangat dihormati dan disegani oleh sang ayah. Sehingga ketika sang anak lahir, ia diberi nama sama seperti nama sang guru, Marasudin Siregar, dengan harapan ia kelak menjadi seorang yang dapat menjadi panutan dan memberikan manfaat bagi sesamanya. 

Ia sering dipanggil Rega oleh teman-teman di kampungnya, biasa dipanggil Regar oleh teman-teman MTsnya, dipanggil Siregar oleh teman Aliyahnya, dan ada juga yang memanggilnya dengan Maras ataupun Din.

Ia masuk Taman Kanak-kanak (TK) di desanya tahun 2000, pada tahun 2001 masuk SD dan menamatkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Grobogan tahun 2007. Sewaktu SD, di pagi hari ia belajar di Sekolah Dasar, sore harinya belajar di Madrasah Diniyah Awaliyah selama enam tahun juga, dan di malam hari bersama kawan-kawannya belajar mengaji di musholla dekat rumah. Sewaktu kecil ini ia juga ikut angon wedus yang dimiliki orang tuanya. Setelah pulang sekolah ia nileki kambing-kambing yang dicancang di tanggul dekat sungai, dan setelah pulang dari MADIN ia menggiringnya untuk kembali ke kandang. Selama di SD ia pernah mengikuti beberapa lomba seperti: senam, lomba sepak takraw, lomba matematika, dan lomba khot yang diadakan pada tingkat kecamatan.
Ia memulai pendidikan menengahnya di MTs Negeri Jeketro Gubug Grobogan yang jaraknya kurang lebih 4 kilometer dari rumahnya yang harus ia tempuh dengan bersepeda bersama teman-temannya. MTs inilah yang ia pilih di antara sekolah-sekolah menengah pertama di Grobogan. Di sini ia berjumpa dengan teman-teman dari berbagai penjuru Kabupaten Grobogan. Ia berjumpa dengan orang-orang yang memiliki semangat belajar tinggi. Jika waktu istirahat datang, kalau tidak digunakan mengerjakan soal pelajaran di dalam kelas, mereka memilih mengunjungi perpustakaan dari pada ke kantin. Mulailah sejak saat itu semangat mencari ilmunya muncul dan berkobar-kobar. Khusus kelas A mendapat tambahan pelajaran setelah bel pulang selama 4 hari, dan ia dapat mempertahankan berada di kelas A dari kelas 7 sampai lulus. Di sekolah ini ia juga pernah mengikuti lomba mapel IPA tingkat karisidenan Purwodadi.
Pada tahun 2010 ia merantau ke Kota Lumpia Semarang untuk belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Semarang dengan mengambil jurusan Keagamaan, sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Pedurungan Lor, Semarang di bawah asuhan KH. Muhammad Qodirun Nur. Kegiatannya selama di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini adalah bersekolah dan mondok. Pagi hari sebelum berangkat sekolah sudah harus jama’ah shubuh bersama, dilanjutkan mengaji Al-Qur’an langsung kepada Kyai, dan melaksanakan piket rutin pondok, dan malam hari mengaji kepada Pak Kyai dan para ustadz-ustadzah yang mengajarkan ajaran Ilahi dalam kitab Al-Qur’an, tafsir jalalain, bulughul marom, ‘imriti, durrotun nasikhin, ihya’ ulumuddin, al-hikam, fathul qorib, ta’limul muta’allim, tuhfatul athfal, akhlak lil banin, serta masih banyak lagi yang lainnya, dan lulus MA pada tahun 2013. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hingga saat ini, dan sekarang sudah sampai semester VII untuk menyelesaikan sisa mata kuliah yang ada. Sejak kecil ia telah memilih pendidikan agama sebagai jalan yang ia tempuh dari MTs, MA, dan Universitas Islam. Itulah alasannya ia memilih jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) karena Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam ajaran Islam.
Ia adalah orang yang suka bermain sepak bola yang selalu dilakukannya setelah pulang dari Madrasah Diniyah Awaliyah dulu, meskipun ia jarang menonton pertandingan sepak bola di televisi. Setelah memasuki MTs, ia memilih menjadi salah satu dari anggota pengurus OSIS MTs. Adapun di MA, ia juga menjadi bagian dari anggota pengurus OSIS MA. Selain OSIS, ia juga mengikuti ekstrakurikuler pencak silat tapak suci Muhammadiyah. Di bangku kuliah, ia hanya mengikuti UKM Nafilah, UKM yang kegiatannya berdiskusi, mengkaji, dan belajar bersama dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Arab, karena ia masih berprofesi sebagai santri, maka setelah kegiatan perkuliahan selesai, ia pun harus segera kembali ke pesantren untuk menimba ilmu pada Sang Kyai.
Hobinya yang lain adalah membaca. Seperti membaca cerita novel karangan Habiburrahman El-Shirazy yaitu: Ayat-ayat Cinta I dan II, Ketika Cinta Bertasbih I dan II, Bumi Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Cita Suci Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, Api Tauhid. Novel lain yang telah ia baca adalah karangan Ahmad Fuadi yaitu Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna. Hobi lainnya adalah berenang, karena di samping rumahnya terdapat sungai, ia bisa mandi, bermain-main, dan kungkum berjam-jam yang tentunya gratis. Lalu bersepeda, tercatat di rumah, ia memiliki tiga buah sepeda. Pertama sepeda kecil yang ia gunakan untuk belajar bersepeda, yang kedua sepeda tiger yang selalu menemaninya berangkat ke MTs dulu, dan yang ketika sepeda mini yang dibelikan ayah sebagai hadiah karena mendapatkan peringkat pertama pada MID Semester kelas 2 MTs. Kemudian bermain tenis meja. Kesukaannya pada pingpong berawal saat tetangganya membeli meja pingpong. Setelah mengaji dari musholla ia mampir dulu bermain. Lalu volley ball, dan lari.