A. KH. HASYIM ASY’ARI
Bidang Teologi
KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya yang berjudul al-Risalah al- Tauhidiyyah dan al-Qaid fi Bayan Ma Yajib Min al-Qaid menjelaskan bahwa ada tiga tingkat apresiasi manusia tentang Tuhan. Pertama, meliputi penilaian tentang keesaan Tuhan (adalah pemahaman tauhid untuk orang awam). Kedua, pengetahuan dan teori kepastian adalah bersumber dari Allah (pemahaman tauhid untuk para ulama). Ketiga, menggambarkan dari perasaan yang paling dalam akan keagungan Tuhan (untuk para sufi). Selain itu, dengan mengutip beberapa ulama, Kyai Hasyim mengatakan bahwa keimanan adalah fondasi pada kepercayaan keesaan Tuhan. Dengan memiliki keimanan, maka kepercayaan kepada keesaan Tuhan semakin kokoh. Dari sini kemudian Kyai Hasyim mengecam paham Komunisme sebagaimana dalam pidatonya di Muktamar NU ke 17 pada 24 Mei 1947.
Bagi Kyai Hasyim, Islam tidak hanya berbicara tentang ketuhanan, tetapi Islam juga berbicara tentang aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi masyarakat terbelakang.
Pemikiran teologi Kyai Hasyim, singkatnya, sejalan dengan formulasi ashari dan al-Maturidi. Formulasi ini merupakan bagian dari sunisme yang berusaha menjembatani antara kelompok yang meyakini atas kebebasan berkehendak (qadiriya) dan golongan yang menyerahkan dirinya pada Tuhan (Jabariah atau fatalism). Konsep-konsep ini kemudian dia jabarkan dalam ahlu sunnah wal jamaah. Menurut Kyai Asyari, ahlu sunnah adalah mereka yang mengikuti salah satu dari empat mazhab. Doktrin ini diterapkan dalam NU yang menyatakan sebagai pengikut, penjaga, dan penyebar faham Ahlu Sunnah wal-Jamaah. NU menerima doktrin ini karena sesuai dengan tujuan-tujuan NU, yaitu mengikuti salah satu dari empat mazhab sunni dan menjaga kurikulum pesantren agar sesuai dengan prinsip- prinsip ahlu sunnah wal jamaah, yang berarti mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan kesepakata ulama.
Meskipun NU menetapkan dirinya sebagai pengawas tradisi denganmempertahankan ajaran empat mazhab, namun pada kenyataannya, ajaran Syafii lah yang banyak dianut oleh pengikut NU.
B. KH. AHMAD DAHLAN
Pemikiran Teologi Islam
Muhammadiyah sebenarnya berdasarkan pada paham teologi Muhammadiyah adalah teologi rasional, Abduhism dan Ridhaism bila boleh dikatakan sebab paham teologi Muhammadiyah, sekalipun Ahmad Dahlan pada mulanya belajar teologi pada Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ahmad Dahlan bergerak dari pendulum radikalis militan menjadi moderat, tanpa mazhab kecuali ar ruju illa quran wa sunnah, sehingga Muhammadiyah tidak terjerumus ke lubang jarum konservatisme dan radikalisme yang cenderung menjadi Muhammadiyah politik.
Dengan pemahaman teologi rasional, bukan wahabisme, sebenarnya Muhammadiyah lebih berpotensi menjadi organisasi sosial keagamaan yang moderat. Muhammadiyah dari teologi rasional memang memiliki tiga ikon yang sampai saat ini melekat keras, yakni pemberantasan tahayul, bid’ah, churafat-syirik. Umat Islam diharapkan memiliki ketauhidan yang murni, artinya hanya percaya pada Allah SWT.
Benar dalam sepuluh tahun terakhir terdapat pembelokan akidah Muhammadiyah, dari paham rasional menjadi wahabi-salafi sehingga Muhammadiyah dikenal oleh publik sebagai organisasi Islam sosial keagamaan yang anti-budaya, anti ziarah kubur, anti tahlilan, anti membaca qunut, anti istighotsah, dan sejenisnya. Mengapa hal itu terjadi? Muhammadiyah belakangan lebih disibukkan dengan mengurus faham teologi umat Islam agar murni sehingga sedikit melupakan perkembangan aliran-aliran teologi yang masuk dalam Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya.
Sekalipun sebagai bukti bahwa Muhammadiyah sebenarnya sangat akomodatif dan mengapresiasi atas lokalitas dan budaya yang bervariatif adalah ketika Kiai Ahmad Dahlan membolehkan seorang Islam Jawa hendak mengerjakan sholat dengan membaca doa-doa dalam bahasa Jawa, Kiai Dahlan membolehkan, hanya disarankan agar terus belajar agar nanti akhirnya dapat dengan lafadz bahasa Arabnya. Muhammadiyah tidak pula anti-ziarah kubur, sebab ziarah kubur merupakan salah saru cara mengingatkan orang akan kematian. Tetapi benar yang berkembang di masyarakat bahwa Muhammadiyah anti-ziarah kubur. lni adalah paham Wahabi yang sepuluh tahun berkembang dalam Islam Indonesia.
Hal yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana merumuskan dan mendefinisikan, mengkategorikan apa yang disebut syirik, bid’ah dan tahayul, churafat, demikian jika mengikuti Sayyid Qutub dan Yusuf al-Qardhawi sehingga membuat masyarakat tidak lagi kritis dan perhatian pada kemungkaran sosial karena adanya ketakutan pada kehilangan material bukan pada hilangnya akidah yang suci.
Paham teologi rasional dan modern ala Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho memang agaknya perlu dikembangkan lebih serius oleh Muhammadiyah sehingga Muhammadiyah dapat memberikan kontribusi lebih ketimbang berkutat pada paham teologi wahabi yang bukan habitatnya.
Kritik M. Dawam Raharjo bahwa Muhammadiyah kurang memberikan perhatian serius pada masalah kalam dan filsafat-teologi saya kira memang ada benarnya, sebab dalam Muhammadiyah tampaknya selama sepuluh tahun terakhir lebih berkonsentrasi pada masalah fikih dan perbaikan teologi yang bersifat praksis.
Dalam konteks seperti itu, secara lebih khusus Muhammadiyah, memang tidak secara organisasi atau persyarikatan memberikan perhatian secara serius dalam hal perkembangan pemikiran Islam, menyangkut pluralisme, dialog antar-agama, dan apalagi sekularisme yang menjadi perdebatan di kalangan intelektual muslim Indonesia. Intelektual yang disebut M. Dawam Rahardjo seperti M. Amin Abdullah, Abdul Munir Mulkhan bahkan Buya Syafii Maarif saja merupakan figur Muhammadiyah yang acap kali dipersoalkan terkait dengan pemikiran-pemikirannya yang dianggap tidak sejalan lagi dengan Muhammadiyah.
Inilah hal-hal yang yang dapat dikatakan perkembangan sepuluh tahun terakhir Muhammadiyah dalam ranah pemahaman teologi modernis menjadi teologi wahabi. Ada perubahan teologi yang semula liberal progresif, jika boleh dikatakan demikian, atau sekurangnya adalah moderat dan apresiatif pada filsafat dan teologi rasional, belakangan agak keras pada paham teologi rasional dan progresif yang semula dibawa Ahmad Dahlan.
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ikhtiar Baru van Hoeve, 1994.
Feillard, Andree. NU vis a vis Negara: Pencarian Isi Bentuk dan Makna. Yogyakarat: LKiS, 1999.
Khuluq, Latiful. Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: LKiS,2000.
Khuluq, Latiful, Hasyim Asy’ari: Religious Thought and Polirical Activities (1871-1947), (Jakarta: Logos).
Qadir, Zuly, Muhammadiyah Studies: Reorientasi Gerakan dan Pemikiran Memasuki Abad Kedua. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar